Kriiiiiing !!!

Bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi. Anak-anak kelas XI IPA 2 pun bergegas meninggalkan Laboratorium IPA.

Sania, Tere, dan Melda berdiri didepan pintu dengan wajah yang masam. “Cepetan kenapa ! lelet banget sih !” kata sania ketus. “Sabar dikit kenapa !” jawab Niken dengan wajah yang tak kalah masamnya. Niken memang orang yang terkenal akan sifatnya yang teledor, pelupa dan gerakannya yang super lambat. Tetapi, ia paling tidak suka jika ada orang yang menganggapnya begitu. “Nah, selesai juga deh iket tali sepatunya, gimana ? bagus rapih ga ?”, kata Niken dengan wajah tanpa rasa bersalah. “iya deh bagus, ayoo cepetan !”, jawab Melda dengan tak sabar. “Ih, kok jawabnya kaya gak ikhlas gitu sih?”, kata Niken sedih. “Bagus kok Nik sepatu lo, ga usah diiket juga udah bagus kok”, canda tere dengan senyum jahil. “Ih Tere mah ngeledek terus !” jawab Niken. “ yaudah cepetan ayo, nanti pak Saut keburu datang loh”, Melda mengingatkan. “Iya ayo !!”, sambung sania. Lalu mereka pun bergegas menuju ke kelas.

Saat mereka tiba dikelas, ternyata guru yang mereka kenal sebagai orang yang tegas dan juga humoris itu belum tiba di kelas. “Yah, udah buru-buru tapi ternyata Pak Saut belum datang”, keluh Melda. Karena Pak Saut belum tiba di kelas mereka, maka mereka pun bercanda dan mengobrol dengan asyiknya. Tiba-tiba Sania ingin meminjam Handphone Niken, “eh Nik, gue boleh pinjem Handphone lo gak ? buat sms nih”, tanya Sania. “Tuh, ambil aja. Pake aja sepuas lo, gue lagi banyak bonus nih. Ehehe”, jawab Niken dengan santainya.

Lalu Sania pun mengambil Handphone Niken dan menggunakannya untuk sms. Setelah Sania selesai meminjam Handphone Niken, Sania pun menaruh kembali handphone Niken di tempat ia mengambilnya tadi, yaitu di atas Jas Laboratorium yang masih belum dimasukkan dan masih ada di atas meja.

Setelah terlambat 30 menit, Pak saut pun tiba di kelas XI IPA 2. suasana kelas yang tadinya ribut mendadak menjadi sunyi karena kedatangan Pak Saut. “Maaf aak-anak, Bapak terlambat masuk ke kelas karena tadi ada sedikit urusan. Sebagai permohonan maaf, Bapak akan mengadakan ulangan dadakan.” Kata Pak saur dengan suara lantang. “HAAAH ??”, anak-anak teriak dengan kompak. “Aduh, kalian kalau mau sekolah sikat gigi dulu kenapa sih. Polusi udara nih !”, canda Pak Saut. “Woo !! enak aja !”, sorak seisi kelas. “Jadi ga nih Pak ulangannya ?”, tanya Tere. Yasudahlah, karena Bapak adalah orang yang baik hati, jadi kerjakan saja Latihan halaman 139 !”, perintah Pak Saut.

Saat semua siswa dan siswi mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Saut, tetapi Niken, Sania, Tere, dan Melda malah mengobrol dengan asyiknya. Niken yang ceroboh menaruh handphonenya di atas tumpukan Jas laboratoriumnya yang belum dilipat. Niken tidak sadar kalau diam-diam Pak Saut mengambil dan menyembunyikan handphone nya saat lewat didekat meja Niken. “ aduh, kalian ini bukannya mengerjakan tapi malah mengobrol saja! Ayo kerjakan sekarang!” tegur Pak Saut.

Setelah itu, Pak Saut pergi meninggalkan kelas. Lalu, Sania betanya pada Niken “Nik, temen gua bales sms di handphone lo ga?”, Tanya Sania. “Gak tau handphone gua kan sama lu ?”, jawab Sania. Niken yang tidak tahu bahwa handphonenya telah dikembalikan oleh Sania merasa kesal. Niken merasa kesal karena Sania meminjam handphonenya tetapi tidak bertanggung jawab. Sania juga merasa kesal terhadap Niken, karena sebenarnya ia sudah mengembalikan handphone nya Niken. “Tadi handphone gue lo taruh dimana ?”, Tanya Niken kesal. “Di meja lo ! maknya jangan ceroboh !”, jawab Sania dengan kesal. “Alah, bilang aja lo mau handphone gua kan ?”, Tuduh Niken dengan nada yang menyindir. Akhinya Sania dan Niken pun bertengkar.

Karena tidak mau selalu disalahkan, Sania pun ikut mencari handphone nya Niken. Pertama Sania dan Niken mencainya di toilet, namun tidak ditemukan. Lalu mereka mencarinya di Laboratorium, dan hasilnya juga sama yaitu NIHIL. Saat Sania dan Niken sedang berada di luar kelas, Pak Saut kembali ke kelas dan bertanya kepada Tere dan Melda kemana Sania dan Niken pegi. Lalu Tere dan Melda menceitakan kejadian tsb kepada Pak Saut. Pak Saut mendengakan cerita Tere dan Melda dengan tesenyum-senyum. Lalu tiba-tiba pak saut mengeluakan handphone nya Niken yang dia sembunyikan tadi dan menaruhnya di tempat pensil Niken. Tere dan Melda merasa kaget saat melihat Pak Saut yang ternyata menyembunyikan handphone nya Niken.

Tidak lama kemudian, Niken dan Sania pun kembali ke kelas. Wajah Niken sepeti oang yang ingin menangis, sedangkan Sania berwajah murung. Niken merasa sangat kesal terhadap Sania. “Ayoo anak-anak, keluarkan jangka kalian!”, perintah Pak Saut. Lalu semua murid pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh Pak Saut. Niken merasa sangat kaget saat membuka tempat pensilnya dan melihat ada handphone nya di dalamnya. Lalu Pak Saut menghampiri Niken ke mejanya dan bertanya, “Makanya, kamu jadi orang jangan ceroboh !”. ”jadi bapak yang sembunyikan handphoen saya ?”, Tanya Niken kepada Pak Saut. “iya. Untuk member kamu pelajaran saja, agar kamu tak ceroboh lagi !”, jawab Pak Saut dengan santainya. Setelah mendengar perkataan Pak Saut, Niken merasa malu karena sudah menyalahkan Sania.

Karena merasa malu, Niken pun meminta maaf kepada sahabatnya yaitu Sania. Dia merasa sangat bersalah karena telah menyalahkan bahkan menuduh Sania telah mengambil handphonenya. Sania pun meminta maaf kepada Niken karena dia tidak bilang saat mengembalikan handphone nya Niken. Akhinya mereka pun baikan, mereka lebih mementingkan persahabatan mereka. Mereka tidak ingin persahabtan mereka hancur hanya karna hal seperti ini.

——————–