Aku merasa bosan di rumah. Setiap hari harus mendengar omelan Ibu dan rengekkan adik perempuanku. Masalah sebenarnya sepele saja, bersih-bersih rumah. Sedangkan aku enggan meninggalkan kegiatanku untuk rutinitas rumah yang sepele itu. Kalau sudah begini, aku langsung bersumpah dalam hati, jika nanti aku sudah berkeluarga, aku akan memanggil pembantu saja untuk mengurusi semua pekerjaan rumah.

Aku benar-benar dongkol dan trauma dengan omelan Ibu.

Dalam hati aku berkata, “ Apakah para Ibu selalu mengomel seperti itu? Tuhan selamatkan aku dari rumah yang menjengkelkan ini. “

“ Bang, es dogernya satu! “ teriakku pada penjual es doger yang selalu berjualan di depan gerbang sekolah. Sambil menunggu es doger, kupandangi teman-temanku dari kejauhan. Betapa enaknya si Mira itu. Setiap hari diantar dan dijemput dengan mobil. Jika aku bisa seperti dia, pasti kulitku juga bisa putih mulus seperti dirinya. Mobil Mira melaju menjauhi kawasan sekolahku. Lalu tiba-tiba Reno dan Riska lewat di sebelahku. Mereka berdua mengobrol mesra sambil berboncengan motor.Ah, betapa malunya aku. Bahkan di usiaku yang sudah menginjak 17 tahun Ibu belum mengizinkanku untuk pacaran.

Kunikmati es doger yang kubeli tadi sambil berjalan ke pinggir jalan tempat orang biasa menyetop angkot. Beberapa menit kemudian angkot jurusanku datang. Dengan cepat aku masuk ke dalamnya dan mengambil tempat kosong yang nyaman. Kulihat sudah ada 2 penumpang di dalam angkot. Yang satu di sebelah sopir, dan di sebelahku, satu. Ia seorang gadis seumuranku. Ia membawa keranjang besar yang ditutup kain. Kulit gadis itu coklat terbakar matahari.

Sebenarnya dia gadis yang cantik, tapi sayang pakaiannya lusuh.

Kucoba mengajaknya bicara,

“ Wah, panas ya ” “…..” Tidak ada jawaban darinya, hanya anggukan. “ Rumahmu dimana? Masih jauh? “

“…..” Ia hanya diam dan lagi-lagi mengangguk. Rupanya cuaca panas sudah membuat orang malas bicara ya, gerutuku. Menyebalkan sekali gadis ini.

Akhirnya aku terpaksa ikut diam.

“ Bruk! “ terdengar sopir membanting pintu angkotnya. Suara bantingan itu membuat aku dan seisi angkot ini kaget setengah mati. Hanya gadis itu yang datar-datar saja.

“ Tiit ” suara bel angkot berbunyi, tanda ada penumpang yang akan turun, namun angkot masih terus melaju. Rupanya pak sopir tak mendengar suara bel.

“ Dug dug dug “ Gadis di sebelahku mengetok langit-langit angkot, namun pak sopir masih asik melamun dan tak mendengarnya. Mengapa gadis ini tidak berteriak sih? Pikirku. Sebelum angkot melaju lebih jauh lagi, akupun berteriak, “ Kiri pak! “ Angkotpun langsung berhenti. Gadis itu menoleh sebentar ke arahku. Ia membayar ongkos kepada pak sopir. “ Kurang 1000 neng! BBM naek “ kata pak sopir pada gadis itu. Kulihat wajah gadis itu panik. Ia melihat isi dompetnya yang kosong, lalu melambaikan tangannya pada pak sopir. Dengan suara yang tergagap-gagap dan gagu ia mencoba menjelaskan pada pak sopir dengan gerakan tangannya. Aku baru tersadar, gadis itu bisu. Pak sopir mulai menggerutu.

“ Maaf pak, saya yang membayar kekurangannya “ kataku. Gadis itu tersenyum padaku, akupun membalasnya. Lalu pak sopir menjalankan angkotnya kembali. Sepuluh menit kemudian aku sampai di gang rumahku.

Kubayar ongkosku sekaligus kekurangan gadis tadi. Sampai di rumah aku langsung berbaring di sofa. Kembali aku harus mendengar omelan Ibu. Masalahnya karena aku tidak langsung melepaskan seragamku. Hah.. menyebalkan! Beberapa hari kemudian sewaktu pulang sekolah, aku kebetulan bertemu lagi dengan gadis itu. Ia tersenyum ramah dan langsung meyodorkan uang 1000 rupiah. Akupun langsung menolaknya. “ Anggap saja sebagai tanda persahabatan “ ucapku padanya. Dia berusaha mengucapkan terima kasih walaupun dengan susah payah dan tergagu-gagu. “ Kenapa kamu ga sekolah? “ tanyaku padanya. Gadis itu mengeluarkan sebuah note book dan bolpoin. “ Sudah 4 hari ini aku membolos “ tulisnya. “ Kenapa bolos? “ tanyaku heran. Ia kembali menuliskan sesuatu di note booknya. “ Sudah 5 hari ini Ibuku sakit, jadi aku harus menggantikannya menjual kue di terminal “ “ Jadi keranjang yang kamu bawa ini isinya kue-kue? “ “ Ya.. “ tulisnya. Kami mengobrol cukup lama di dalam angkot. Aku melontarkan pertanyaan padanya, lalu Ia menjawabnya dengan tulisan. “ Bagaimana kalau aku mampir ke rumahmu? “ Ia segera mengangguk begitu mendengar aku ingin mampir ke rumahnya. Rumah gadis itu sempit sekali. Tiap ruangan dibatasi dengan tirai yang sudah butut. Ia hanya tinggal berdua saja dengan Ibunya. Aku mengobrol dengannya sambil memakan kue yang biasa Ia dan Ibunya jual di terminal. Meski aku harus bersabar menunggu Ia menjawab pertanyaanku dengan tulisannya. “ Oh ya, mana Ibumu? “ “ Sedang tidur di dalam “ tulisnya. “ Kalau boleh tau, Ibumu sakit apa? “ “ Mungkin kecapekan karena berdesak-desakkan mengambil BLT “ Kasihan sekali gadis ini. Ia harus menanggung beban seberat itu. Dan hebatnya Ia tak pernah mengeluh meski harus menggantikan Ibunya berjualan kue di terminal. Diam-diam aku sangat malu atas sikapku pada Ibu. Berkali-kali aku mengatainya cerewet. Padahal cerewetnya Ibu itu pasti untuk kebaikanku. Sesampainya di rumah, tanpa disuruh aku langsung melepaskan seragamku, meletakkan sepatu pada tempatnya, aku juga menyapu dan mencuci piring. Dan setelah aku melakukan itu, ada kepuasan tersendiri untukku. Awalnya Ibu melihatku dengan terheran-heran, namun Ia tak berkomentar. Anehnya, sekarang aku rindu komentar cerewetnya. Terbayang jika Ibu sudah tiada, aku pasti sudah gila, aku takut sekali membayangkan hal itu. Gadis bisu itu memberiku pelajaran yang berharga. Aku sangat berterima kasih padanya. Rumah yang selama ini kuanggap mengganggu dan menjengkelkan, kini bisa menjadi istana yang nyaman untukku.